Keangkuhan diri merupakan lawan dari kepasrahan diri. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim, bahwa yang di maksud oleh Rasulullah SAW. dengan keangkuhan diri dan kesombongan itu adalah, menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Sejalan dengan itu, Imam Ghazali berpendapat, keangkuhan diri adalah perasaan superior dalam pikiran, memandang orang lain lebih rendah dari dirinya. Karena keangkuhan diri inilah iblis dilaknat oleh Allah, yaitu semata-mata merasa dirinya yang di buat dari api, lebih hebat dari Adam yang hanya berasal dari tanah.
Sebenarnya keangkuhan diri ini tidak perlu terjadi bila kita dapat meredam mental untuk menyepelekan orang lain. Bukankah Rasulullah saw telah bersabda, “Bukan umatku, orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda.”
Memang apabila direnungkan lebih dalam, kita sangat tidak patut menyombongkan diri. Karena bukankah semua yang terjadi itu adala merupakan ketetapan dari Allah Yang Maha Pemurah ?. Manusia punya kehendak tapi ingatlah bahwa Allah juga punya kehendak, dan kita tahu yang terjadi adalah kehendak Allah. Adapun bila keinginan kita terwujud menjadi kenyataan, itu hanyalah faktor kebetulan saja; yaitu kebetulan pada saat itu kehendak kita sejalan dengan kehendak Allah. Mungkin itulah salah satu sebabnya mengapa Al-Qur’an mengajarkan pada kita, “Segala puji bagi allah semata“.
Dan Jangan lah kamu memalingkan mukamu daru manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Luqman (31):18)
Bahan Renungan Kalbu; Ir Permadi Alibasyah; 2005